Salah satu masalah yang cukup sering dialami oleh pengusaha pemula bukan hanya soal mencari pelanggan, tetapi juga mengelola uang.
Bisnis mungkin terlihat ramai. Pesanan datang setiap hari. Uang masuk ke rekening atau dompet. Namun, ketika ingin membeli bahan baku, membayar biaya operasional, atau menghitung keuntungan, pemilik bisnis justru bingung.
Pertanyaannya sederhana: uang yang tersedia itu sebenarnya uang bisnis atau uang pribadi?
Masalah tersebut sering terjadi karena keuangan pribadi dan keuangan usaha masih dicampur.
Padahal, memisahkan keuangan pribadi dan bisnis merupakan salah satu kebiasaan dasar yang penting dalam menjalankan usaha.
Mengapa Keuangan Pribadi dan Bisnis Harus Dipisahkan?
Ketika baru memulai bisnis kecil dari rumah, mencampurkan uang pribadi dan uang usaha mungkin terasa praktis.
Misalnya, uang hasil penjualan masuk ke rekening pribadi. Ketika membutuhkan bahan baku, uang tersebut digunakan. Saat membutuhkan uang untuk kebutuhan pribadi, uang yang sama juga diambil.
Awalnya mungkin tidak terasa bermasalah.
Namun, semakin bisnis berkembang, cara seperti ini bisa membuat pencatatan keuangan menjadi sulit.
Pemilik bisnis tidak lagi mengetahui secara jelas berapa omzet, biaya, keuntungan, dan uang yang sebenarnya bisa digunakan.
Sulit Mengetahui Keuntungan
Salah satu dampak terbesar dari mencampurkan uang adalah sulit menghitung keuntungan.
Misalnya, sebuah usaha mendapatkan penjualan Rp3 juta dalam satu bulan.
Angka tersebut bukan berarti keuntungan Rp3 juta.
Masih ada biaya bahan baku, kemasan, transportasi, listrik, pemasaran, dan biaya lainnya.
Jika uang usaha digunakan untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan, pemilik bisnis bisa merasa bahwa bisnis menghasilkan banyak uang, padahal keuntungan sebenarnya jauh lebih kecil.
Pisahkan Rekening Jika Memungkinkan
Cara sederhana untuk mulai mengatur keuangan adalah menggunakan rekening atau tempat penyimpanan uang yang berbeda.
Satu digunakan untuk bisnis dan satu untuk kebutuhan pribadi.
Tidak harus langsung menggunakan rekening bisnis khusus dengan fasilitas yang kompleks.
Yang penting adalah ada pemisahan yang jelas.
Setiap uang hasil penjualan masuk ke bagian bisnis. Biaya yang berkaitan dengan usaha juga dibayarkan dari uang tersebut.
Sementara kebutuhan pribadi menggunakan uang pribadi.
Dengan cara ini, aliran uang menjadi lebih mudah dipantau.
Catat Semua Uang yang Masuk dan Keluar
Tidak sedikit pengusaha kecil yang hanya mencatat penjualan, tetapi lupa mencatat pengeluaran.
Padahal keduanya sama-sama penting.
Buat pencatatan sederhana yang berisi:
- Tanggal
- Keterangan
- Uang masuk
- Uang keluar
- Saldo
Misalnya:
Uang masuk: hasil penjualan produk.
Uang keluar: pembelian bahan baku.
Uang keluar: biaya kemasan.
Uang keluar: biaya pengiriman atau transportasi.
Dari pencatatan tersebut, pemilik bisnis dapat melihat kondisi usaha dengan lebih jelas.
Tentukan Gaji untuk Diri Sendiri
Bagi pemilik bisnis kecil, konsep “gaji untuk pemilik” mungkin terdengar tidak biasa.
Namun, menetapkan jumlah tertentu yang dapat diambil untuk kebutuhan pribadi dapat membantu menjaga keuangan bisnis.
Misalnya, pemilik menentukan bahwa setiap bulan akan mengambil sejumlah uang tertentu dari keuntungan bisnis sebagai penghasilan pribadi.
Dengan begitu, pemilik tidak mengambil uang bisnis kapan saja tanpa perhitungan.
Tentu jumlahnya harus disesuaikan dengan kondisi bisnis.
Jangan Menganggap Omzet sebagai Keuntungan
Ini merupakan hal penting yang perlu dipahami pengusaha pemula.
Omzet berbeda dengan keuntungan.
Omzet adalah total penjualan yang diperoleh.
Keuntungan adalah uang yang tersisa setelah berbagai biaya usaha diperhitungkan.
Contohnya, bisnis memperoleh penjualan Rp5 juta.
Jika biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis mencapai Rp3,5 juta, maka tidak tepat jika mengatakan keuntungan bisnis adalah Rp5 juta.
Karena masih ada biaya yang harus dikurangi.
Pemahaman sederhana ini bisa membantu pemilik bisnis mengambil keputusan yang lebih realistis.
Siapkan Dana untuk Operasional
Jangan menggunakan seluruh uang hasil penjualan untuk kebutuhan pribadi.
Sebagian uang perlu dipersiapkan untuk menjalankan bisnis berikutnya.
Misalnya untuk membeli stok, bahan baku, kemasan, biaya promosi, atau kebutuhan operasional lainnya.
Dengan memiliki dana operasional, bisnis tidak selalu harus mencari uang baru setiap kali ingin melakukan aktivitas usaha.
Evaluasi Keuangan Secara Rutin
Pencatatan keuangan tidak akan banyak membantu jika tidak pernah diperiksa.
Luangkan waktu secara rutin untuk mengevaluasi kondisi bisnis.
Beberapa pertanyaan yang bisa digunakan:
- Berapa total penjualan bulan ini?
- Berapa biaya yang dikeluarkan?
- Produk mana yang paling banyak terjual?
- Pengeluaran apa yang paling besar?
- Apakah ada biaya yang sebenarnya bisa dikurangi?
- Berapa keuntungan yang diperoleh?
Tidak perlu menggunakan analisis yang rumit.
Untuk usaha kecil, pencatatan sederhana yang dilakukan secara konsisten sudah jauh lebih baik daripada tidak mencatat sama sekali.
Kesalahan Keuangan yang Perlu Dihindari
Pengusaha pemula juga perlu berhati-hati terhadap beberapa kebiasaan.
Pertama, mengambil uang bisnis tanpa mencatatnya.
Kedua, membeli terlalu banyak stok tanpa melihat kemampuan penjualan.
Ketiga, tidak menghitung seluruh biaya sebelum menentukan harga jual.
Keempat, menganggap semua uang yang ada di rekening sebagai keuntungan.
Kelima, tidak memiliki dana yang dialokasikan untuk kebutuhan bisnis berikutnya.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa membuat bisnis terlihat berjalan, tetapi kondisi keuangannya sebenarnya tidak sehat.
Bisnis Kecil Tetap Perlu Dikelola dengan Serius
Ukuran bisnis bukan alasan untuk mengabaikan keuangan.
Justru ketika masih kecil, pengusaha bisa membangun kebiasaan yang baik sejak awal.
Jika pencatatan sudah rapi sejak bisnis dimulai, akan lebih mudah ketika usaha berkembang dan transaksi semakin banyak.
Tidak perlu menunggu bisnis memiliki omzet besar untuk mulai mengatur keuangan.
Mulai dari sekarang dengan cara yang sederhana dan sesuai kemampuan.
Belajar Bisnis Bersama Gudang Peluang
Menjalankan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar produk untuk dijual. Pengusaha juga perlu memahami cara mengelola usaha, memasarkan produk, dan mengembangkan kemampuan bisnis.
Gudang Peluang hadir sebagai platform ekosistem bisnis dan pemberdayaan kewirausahaan yang membantu masyarakat dan pelaku UMKM untuk memulai, menjalankan, dan mengembangkan usaha dari rumah.
Dengan adanya produk siap jual serta edukasi dan pelatihan bisnis terpandu, calon pengusaha dapat memiliki akses untuk belajar sekaligus mengenal peluang bisnis.
Anda dapat mendaftar di Gudang Peluang secara gratis dan mulai belajar membangun bisnis dengan lebih terarah. Untuk anggota yang sudah bergabung, manfaatkan berbagai aktivitas dan edukasi Gudang Peluang agar tidak hanya menjadi anggota, tetapi juga aktif mengembangkan bisnis.
Kesimpulan
Mengelola keuangan merupakan bagian penting dari perjalanan bisnis.
Memisahkan uang pribadi dan uang bisnis, mencatat pemasukan serta pengeluaran, memahami perbedaan omzet dan keuntungan, dan melakukan evaluasi secara rutin dapat membantu bisnis berjalan lebih teratur.
Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar.
Kebiasaan mengelola keuangan yang baik justru sebaiknya dimulai ketika bisnis masih kecil.
