Mendapatkan Pelanggan Pertama Memang Membahagiakan, Tapi Perjalanan Belum Selesai
Ada satu momen yang biasanya cukup berkesan bagi seseorang yang baru memulai bisnis.
Notifikasi pesanan pertama masuk.
Ada orang yang benar-benar tertarik dengan produk yang Anda tawarkan. Ada seseorang yang bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu dari bisnis yang baru Anda bangun.
Rasanya tentu menyenangkan.
Apalagi jika sebelumnya Anda sudah menghabiskan waktu membuat konten, menawarkan produk, membalas chat, melakukan promosi, dan mungkin sempat bertanya-tanya apakah akan ada orang yang membeli.
Namun, setelah pelanggan pertama melakukan pembayaran, apa yang harus dilakukan?
Banyak pengusaha pemula langsung kembali mencari pelanggan berikutnya.
Tidak salah.
Mendapatkan pelanggan baru memang penting.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan:
Pelanggan pertama bukan hanya sebuah transaksi. Mereka adalah kesempatan untuk membangun hubungan.
Dari pelanggan pertama, Anda bisa mendapatkan pengalaman, masukan, testimoni, bahkan kemungkinan pembelian berikutnya.
Karena itu, jika saat ini Anda baru mendapatkan pelanggan pertama, jangan langsung berpikir, “Bagaimana cara mendapatkan pelanggan kedua?”
Coba pikirkan juga:
“Bagaimana caranya agar pelanggan pertama ini mendapatkan pengalaman yang baik dan mau kembali lagi?”
Inilah salah satu dasar penting dalam cara mempertahankan pelanggan.
Mengapa Pelanggan Pertama Begitu Penting?
Pelanggan pertama memiliki posisi yang cukup penting bagi bisnis yang baru berkembang.
Pertama, mereka memberikan validasi awal.
Sebelum ada transaksi, produk Anda masih sebatas ide atau penawaran. Setelah ada orang yang benar-benar membeli, Anda mendapatkan bukti bahwa ada seseorang yang bersedia membayar untuk produk atau layanan tersebut.
Kedua, pelanggan pertama dapat memberikan feedback.
Mungkin ternyata ada bagian produk yang perlu diperbaiki.
Mungkin cara pemesanan masih membingungkan.
Mungkin informasi produk belum cukup jelas.
Atau mungkin justru ada hal yang sangat disukai pelanggan dan perlu dipertahankan.
Ketiga, pelanggan pertama berpotensi menjadi pelanggan berulang.
Dan yang tidak kalah penting, pengalaman pelanggan pertama dapat membantu Anda memahami bagaimana bisnis sebenarnya berjalan.
Karena teori dan praktik terkadang berbeda.
Apa yang Anda bayangkan sebelum memiliki pelanggan belum tentu sama dengan apa yang terjadi ketika transaksi benar-benar berlangsung.
Jadi, jangan melihat pelanggan pertama hanya sebagai angka penjualan.
Lihat mereka sebagai sumber pembelajaran.
1. Pastikan Proses Setelah Pembelian Berjalan dengan Baik
Kesalahan yang sering terjadi adalah perhatian kepada pelanggan justru berkurang setelah pembayaran diterima.
Padahal, perjalanan pelanggan belum selesai.
Setelah transaksi, masih ada proses yang menentukan pengalaman mereka.
Apakah pesanan diproses dengan cepat?
Apakah produk dikemas dengan baik?
Apakah informasi pengiriman diberikan dengan jelas?
Apakah produk sampai sesuai dengan yang dijanjikan?
Hal-hal sederhana tersebut dapat memengaruhi kesan pelanggan terhadap bisnis Anda.
Bayangkan seseorang membeli produk dari Anda untuk pertama kali.
Sebelum membeli, Anda sangat responsif menjawab pertanyaan.
Namun setelah pembayaran diterima, pelanggan justru kesulitan mendapatkan informasi mengenai pesanan.
Pengalaman seperti ini tentu bisa membuat mereka ragu untuk melakukan pembelian kembali.
Karena itu, jangan hanya berusaha membuat pelanggan membeli.
Usahakan juga membuat mereka merasa dilayani dengan baik setelah membeli.
2. Jangan Lupa Mengucapkan Terima Kasih
Terdengar sederhana, tetapi ucapan terima kasih dapat memberikan sentuhan personal dalam hubungan dengan pelanggan.
Anda tidak harus membuat pesan yang panjang.
Cukup tunjukkan bahwa Anda menghargai keputusan mereka untuk membeli.
Misalnya, setelah pesanan diterima, Anda dapat mengirimkan pesan singkat untuk memastikan produk sudah sampai dengan baik.
Jika dilakukan dengan tulus dan tidak berlebihan, komunikasi seperti ini dapat membuat bisnis terasa lebih manusiawi.
Apalagi bagi bisnis kecil atau bisnis yang baru dimulai.
Pelanggan mungkin tidak hanya mengingat produknya, tetapi juga bagaimana mereka diperlakukan.
Dalam bisnis, pengalaman seperti ini dapat menjadi salah satu bagian dari loyalitas pelanggan.
3. Minta Feedback, Bukan Sekadar Rating
Setelah pelanggan menggunakan produk, cobalah meminta feedback.
Namun, jangan hanya bertanya:
“Produknya bagus, kan?”
Pertanyaan seperti itu cenderung menghasilkan jawaban yang sangat umum.
Coba gunakan pertanyaan yang lebih spesifik.
Misalnya:
- Apa yang paling Anda sukai dari produk ini?
- Apakah ada bagian yang menurut Anda masih bisa diperbaiki?
- Apakah produk sesuai dengan ekspektasi?
- Bagaimana pengalaman Anda selama proses pemesanan?
- Apakah ada produk lain yang ingin Anda lihat?
Jawaban pelanggan dapat menjadi sumber insight yang sangat berguna.
Mungkin Anda menemukan bahwa pelanggan menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak Anda anggap penting.
Sebaliknya, Anda juga mungkin menemukan masalah yang tidak pernah Anda sadari.
Feedback bukan berarti bisnis Anda buruk.
Justru, feedback memberikan kesempatan untuk melihat bisnis dari sudut pandang pelanggan.
4. Gunakan Feedback untuk Memperbaiki Bisnis
Mendapatkan feedback saja belum cukup.
Yang lebih penting adalah apa yang Anda lakukan setelah mendapatkannya.
Misalnya, beberapa pelanggan mengatakan bahwa informasi produk kurang lengkap.
Berarti Anda bisa memperbaiki deskripsi produk.
Jika pelanggan merasa proses pemesanan terlalu rumit, Anda bisa menyederhanakan alurnya.
Jika mereka menyukai kemasan produk, pertahankan elemen tersebut.
Jika ada keluhan yang sama dari beberapa pelanggan, jangan menganggapnya sebagai masalah kecil.
Bisa jadi itu adalah tanda bahwa ada bagian bisnis yang perlu diperbaiki.
Inilah salah satu kebiasaan penting dalam strategi bisnis:
Mendengarkan → mengevaluasi → memperbaiki → mencoba kembali.
Bisnis yang berkembang bukan bisnis yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Bisnis yang berkembang adalah bisnis yang mau belajar dari kesalahan tersebut.
5. Bangun Komunikasi Setelah Transaksi
Jangan menghubungi pelanggan hanya ketika ingin menjual sesuatu.
Ini adalah salah satu prinsip yang penting ketika membangun hubungan dengan pelanggan.
Jika setiap pesan yang masuk selalu berupa:
“Promo hari ini!”
“Beli sekarang!”
“Diskon khusus!”
lama-kelamaan pelanggan bisa merasa hanya dianggap sebagai target penjualan.
Cobalah membangun komunikasi yang lebih seimbang.
Berikan informasi yang memang bermanfaat.
Bagikan tips penggunaan produk.
Berikan informasi mengenai produk baru.
Tanyakan pengalaman mereka.
Atau sekadar memberikan apresiasi kepada pelanggan.
Tujuannya bukan agar setiap komunikasi menghasilkan transaksi.
Tujuannya adalah menjaga hubungan agar bisnis tidak terasa hanya muncul ketika sedang membutuhkan penjualan.
6. Dorong Terjadinya Repeat Order
Salah satu tujuan dari cara mempertahankan pelanggan adalah menciptakan kemungkinan terjadinya pembelian kembali atau repeat order.
Tetapi, repeat order tidak seharusnya dipaksakan.
Anda perlu memahami kapan pelanggan kemungkinan membutuhkan produk kembali.
Misalnya, jika produk memiliki masa penggunaan tertentu, Anda dapat memberikan pengingat yang relevan.
Jika produk merupakan barang yang dapat dikonsumsi, Anda dapat memberikan informasi mengenai produk yang mungkin dibutuhkan berikutnya.
Jika bisnis menjual berbagai produk yang saling berkaitan, Anda dapat memberikan rekomendasi berdasarkan kebutuhan pelanggan.
Kuncinya adalah relevansi.
Jangan menawarkan sesuatu hanya karena ingin menjual.
Tawarkan sesuatu karena memang ada kemungkinan pelanggan membutuhkannya.
7. Berikan Alasan untuk Kembali
Mengapa seseorang harus membeli kembali dari bisnis Anda?
Pertanyaan ini penting.
Produk yang bagus memang menjadi alasan utama.
Tetapi pengalaman keseluruhan juga berpengaruh.
Misalnya:
- pelayanan yang ramah,
- proses pemesanan yang mudah,
- kualitas yang konsisten,
- informasi yang jelas,
- respons yang cepat,
- atau adanya manfaat khusus bagi pelanggan yang kembali.
Anda bisa membuat program sederhana untuk pelanggan lama jika memang sesuai dengan bisnis.
Misalnya, penawaran khusus untuk pembelian berikutnya, program loyalitas, bonus tertentu, atau akses informasi produk lebih awal.
Tidak harus mahal.
Yang penting adalah pelanggan memiliki alasan untuk mempertimbangkan kembali bisnis Anda ketika membutuhkan produk yang sama atau serupa.
8. Jadikan Pelanggan Pertama sebagai Sumber Testimoni
Jika pelanggan merasa puas, Anda dapat meminta izin untuk menggunakan pengalaman mereka sebagai testimoni.
Testimoni bisa menjadi aset yang membantu bisnis membangun kepercayaan.
Mengapa?
Karena calon pelanggan biasanya memiliki pertanyaan sebelum membeli:
“Apakah produk ini benar-benar bagus?”
“Apakah penjualnya dapat dipercaya?”
“Bagaimana pengalaman orang lain?”
Testimoni dari pelanggan sebelumnya dapat membantu memberikan gambaran mengenai pengalaman nyata.
Namun, jangan membuat testimoni secara berlebihan atau memanipulasinya.
Gunakan feedback yang benar-benar diberikan pelanggan dan mintalah izin jika akan menggunakan nama, foto, atau informasi tertentu.
Dengan begitu, testimoni dapat menjadi bagian dari komunikasi bisnis yang lebih autentik.
9. Catat Siapa Pelanggan Anda
Ketika jumlah pelanggan masih sedikit, mungkin Anda merasa tidak perlu melakukan pencatatan.
Tetapi justru inilah waktu yang bagus untuk mulai membangun kebiasaan.
Catat informasi yang relevan dengan bisnis.
Misalnya:
- produk yang dibeli,
- tanggal pembelian,
- jumlah transaksi,
- preferensi tertentu,
- feedback,
- dan riwayat pembelian.
Data sederhana tersebut dapat membantu Anda memahami pola pelanggan ketika bisnis mulai berkembang.
Misalnya, Anda menemukan bahwa produk tertentu lebih sering dibeli oleh pelanggan yang memiliki kebutuhan tertentu.
Atau ada pelanggan yang secara rutin melakukan pembelian setiap beberapa minggu.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk membuat strategi pemasaran yang lebih relevan.
Anda tidak lagi hanya menebak apa yang diinginkan pelanggan.
Anda mulai mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dimiliki.
10. Jangan Lupakan Pelanggan Baru
Fokus mempertahankan pelanggan bukan berarti Anda harus berhenti mencari pelanggan baru.
Keduanya tetap penting.
Bisnis membutuhkan pelanggan baru untuk berkembang.
Namun, bisnis juga perlu mempertahankan pelanggan yang sudah pernah percaya kepada Anda.
Bayangkan bisnis seperti ember yang sedang diisi air.
Mendapatkan pelanggan baru adalah salah satu cara mengisi ember.
Mempertahankan pelanggan membantu memastikan bahwa air yang sudah masuk tidak terus-menerus keluar.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana cara mendapatkan lebih banyak pelanggan?”
Tambahkan:
“Bagaimana cara membuat pelanggan yang sudah ada tetap ingin berhubungan dengan bisnis saya?”
Keseimbangan keduanya dapat membantu bisnis tumbuh dengan lebih sehat.
Mendapatkan Pelanggan Pertama Adalah Awal dari Proses Belajar
Bagi pengusaha pemula, pelanggan pertama sering kali terasa seperti pencapaian besar.
Dan memang layak dirayakan.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Gunakan pengalaman tersebut sebagai titik awal untuk memahami bagaimana bisnis Anda bekerja.
Pelajari apa yang membuat pelanggan tertarik.
Pelajari apa yang membuat mereka membeli.
Pelajari bagaimana mereka menggunakan produk.
Pelajari apa yang mereka sukai.
Dan pelajari apa yang masih perlu diperbaiki.
Dengan begitu, setiap transaksi memberikan lebih dari sekadar pendapatan.
Setiap transaksi juga memberikan pengalaman dan data untuk mengembangkan bisnis.
Ingin Bisnis Berkembang? Jangan Berhenti Belajar Setelah Mendapatkan Penjualan
Salah satu tantangan ketika mulai mendapatkan pelanggan adalah merasa bahwa bagian tersulit sudah selesai.
Padahal, setelah mendapatkan pelanggan pertama, masih ada banyak kemampuan yang perlu dikembangkan.
Mulai dari pemasaran, pelayanan pelanggan, pengelolaan keuangan, pembuatan konten, hingga strategi mempertahankan pelanggan.
Karena itu, pengusaha perlu memiliki kebiasaan untuk terus belajar.
Anda tidak harus belajar semuanya dalam satu waktu.
Mulailah dari masalah yang sedang dihadapi.
Jika sulit mendapatkan pelanggan, pelajari pemasaran.
Jika pelanggan belum kembali membeli, pelajari pengalaman dan loyalitas pelanggan.
Jika penjualan mulai meningkat tetapi pengelolaan bisnis semakin rumit, pelajari manajemen operasional dan keuangan.
Dan jika Anda merasa belajar sendirian cukup berat, carilah lingkungan yang dapat membantu.
Gudang Peluang merupakan ekosistem pemberdayaan bisnis dan kewirausahaan yang membantu masyarakat, pengusaha pemula, reseller, dropshipper, dan pelaku UMKM untuk memulai serta mengembangkan bisnis dari rumah. memcite
Jika Anda belum menjadi anggota, Anda dapat mendaftar di Gudang Peluang secara gratis dan mulai mengenal berbagai kesempatan yang tersedia.
Bagi Anda yang sudah menjadi anggota, jangan hanya berhenti pada status keanggotaan. Aktif mengikuti berbagai kegiatan Gudang Peluang dapat menjadi kesempatan untuk terus belajar, mendapatkan insight baru, berinteraksi dengan anggota lain, dan mengembangkan kemampuan yang dapat diterapkan dalam bisnis.
Karena mendapatkan pelanggan pertama memang penting.
Tetapi kemampuan untuk terus belajar setelah mendapatkan pelanggan pertama juga tidak kalah penting.
Dari Satu Pelanggan, Bangun Hubungan yang Lebih Panjang
Bayangkan jika pelanggan pertama Anda tidak hanya melakukan satu pembelian.
Mereka kembali membeli.
Kemudian merekomendasikan bisnis Anda kepada temannya.
Lalu temannya menjadi pelanggan baru.
Satu transaksi akhirnya berkembang menjadi hubungan yang lebih panjang.
Tentu saja, tidak semua pelanggan akan melakukan hal tersebut.
Dan Anda tidak bisa memaksa seseorang untuk membeli kembali.
Tetapi Anda bisa menciptakan pengalaman yang membuat mereka memiliki alasan untuk kembali.
Mulai dari produk yang baik, pelayanan yang konsisten, komunikasi yang tepat, hingga kesediaan untuk mendengarkan feedback.
Semua hal tersebut membutuhkan proses.
Penutup: Jangan Hanya Mengejar Transaksi, Bangun Kepercayaan
Mendapatkan pelanggan pertama adalah pencapaian yang patut diapresiasi.
Namun, transaksi pertama bukan garis finish.
Justru, transaksi pertama bisa menjadi awal dari hubungan antara bisnis dan pelanggan.
Setelah mendapatkan pelanggan pertama, pastikan proses setelah pembelian berjalan dengan baik. Ucapkan terima kasih. Minta feedback. Perbaiki kekurangan. Bangun komunikasi. Dorong repeat order secara relevan. Gunakan testimoni dengan izin. Dan mulai mencatat data pelanggan sejak dini.
Semua langkah tersebut merupakan bagian dari cara mempertahankan pelanggan sekaligus membangun bisnis yang lebih berorientasi pada hubungan jangka panjang.
Bagi Anda yang sedang membangun bisnis, jangan merasa harus mengetahui semuanya sejak awal.
Belajar adalah bagian dari perjalanan.
Belum menjadi anggota Gudang Peluang? Daftar secara gratis dan mulai manfaatkan ekosistem yang dapat membantu Anda belajar serta mengenali berbagai peluang bisnis.
Sudah menjadi anggota? Jangan hanya menjadi anggota yang pasif. Aktiflah mengikuti seluruh kegiatan Gudang Peluang, manfaatkan kesempatan belajar dan networking, lalu terapkan insight yang Anda dapatkan untuk mengembangkan bisnis.
Karena pada akhirnya, bisnis yang kuat bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berhasil membeli.
Tetapi juga tentang berapa banyak kepercayaan yang berhasil Anda bangun setelah transaksi terjadi.
Pelanggan pertama mungkin hanya menghasilkan satu transaksi.
Tetapi jika Anda merawat hubungan dengan baik, satu transaksi tersebut bisa menjadi awal dari perjalanan bisnis yang jauh lebih panjang.
